Suratku untuk Dimas



Aku bingung ketika harus memulai  paragraf ini. Tapi, melalui surat singkat yang aku buat, ingin kusampaikan perkenalan singkatku dengan seorang anak yang separuh wajahnya habis dimakan tumor. Ia terkena tumor sejak ia lahir dan sampai saat ini sudah memakan hampir separuh wajahnya.
                Namanya dimas, ia anak yang berumur 7 tahun dan tidak bersekolah. Tumor yang menghinggapi wajahnya telah membuat ia tidak dapat bersekolah dan dijauhi oleh teman-temannya. Secara pribadi, ketika pertama aku melihatnya, kesedihan muncul didalam diriku. Laksana  pohon yang tumbuh dipadang tandus dan merasakan panasnya matahari saat ia mulai rapuh. Entah bagaimana kulukiskan kesedihan hatiku secara mendalam saat menatap dirinya yang seolah kehilangan jati diri.
                Ayah dan ibunya yang bekerja sebagai buruh hanya mampu memberi makan sehari-hari tanpa mampu membawa anak ini kerumah sakit. Dan semakin hari, saat tumor membuat wajahnya semakin rusak dan menggelambir, masyarakat disekitarnya hanya mampu menatap sedih anak ini. Tanpa mampu memberikan uluran tangan guna membantunya sembuh dari penyakit tumor yang merenggut sebagian wajahnya.
                Saat kudatangi rumah anak ini, terlihat kesederhanaan yang menghiasi tiap nafas-nafas  hidup keluarganya. Ibunya menangis saat kusampaikan keinginan hatiku membantu. Tanpa embel-embel apapun. Hanya hati nurani yang berbicara dan nilai kemanusiaan yang menghantui diriku.
Nanar wajah bahagia bercampur haru ibu dan neneknya mendengar keinginanku untuk membantunya. Seolah bisikan bidadari langit yang terbang bagai burung, menyusuri lembah-lembah dan hutan belantara mendengar keinginan tersebut. Beribu harapan, berjuta impian dan keyakinan atas kesembuhan anak ini.
Saat ini Ia tinggal didaerah macan lindungan, komplek BSI blok C2 No 14, daerah Bukit, Palembang, Sumatera selatan. Dan Dengan semua kepolosan bocah cilik, kulihat sebuah harapan yang kabur karena penyakit yang menimpa dirinya. Kekesalan ia pada Tuhan yang seolah tidak berlaku adil padanya. Ia lunglai karna penyakit, ia lemah dengan kondisi dirinya yang semakin memburuk tanpa tahu harus berbuat apa.
Oh dimas, percayalah padaku bahwa hari-hari kelammu akan berlalu dengan uluran tangan saudara-saudaramu yang akan terus membantu. Doaku akan terus menyertaimu.
Bantuan saudara-saudara sekalian bisa dikirim melalui  rekening BNI 0235051334 Atas nama Muh. Zainul Arifin, atau kontak kami di nomor telp 085643392643 (Zainul/ Akim).
Palembang, 22 januari 2012


Gebyar XVIII Lembaga Pers Mahasiswa Gelora Sriwijaya Universitas Sriwijaya 2011

Palembang-Media Sriwijaya, Dalam rangka memperingati hari jadi yang ke 18, Lembaga Pers Mahasiswa Gelora Sriwijaya menyelenggarakan Gebyar XVIII. Di Gebyar kali ini LPM Gelora Sriwijaya mengadakan Seminar Workshop Citizen Journalism (30/10) bertempat di Gedung Aula Pasca Sarjana Unsri Bukit Besar.
Tujuan diadakannya acara ini yaitu untuk menumbuhkan minat menulis siswa SMA, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya seperti insan pers muda. Tidak hanya wartawan yang bisa menulis, tidak hanya seorang penulis yang dapat menerbitkan buku, tetapi siswa sma, mahasiswa, dan masyarakat umum itu juga dapat menulis dan dapat juga diterbitkan. Teknologi saat ini sudah maju. Ada banyak media yang bisa digunakan untuk menulis misalnya blog, facebook, twitter.
Acara ini juga dimaksudkan agar masyarakat Palembang gemar menulis, karena jika dilihat Palembang jauh kalah dengan masyarakat Jawa, rata-rata siswa SMA di Jawa banyak yang sudah memiliki blog yang bagus, mereka mengapresiasikan diri mereka, sekolah mereka melalui tulisan.
Acara yang dihadiri siswa SMA, mahasiswa dan masyarakat umum ini tidak hanya berisikan seminar jurnalistik saja, tetapi diadakan berbagai perlombaan yang diantaranya perlombaan esai dan menggambar dengan tema seagames membangun Sumsel, perlombaan mading dengan tema warna-warni jurnalistik, perlombaan penulisan berita, serta perlombaan fotografi. Hadiah yang ditawarkan pun tidak kalah menggiurkan yaitu piala, piagam dan juga uang tunai total jutaan rupiah. Peserta tahun ini merupakan yang paling banyak setelah 18 kali acara tersebut diselenggarakan yaitu sekitar 227 peserta dan ditambah peserta lomba jadi total keseluruhan sekitar 300 peserta.
Seminar yang dimulai pukul 08.00 wib ini diawali dengan pengisian materi oleh Anto Narasoma yang juga merupakan wartawan senior Sumatera Ekspres, ia didaulat sebagai pembicara pertama dalam acara seminar ini. Selain itu,  Sediia Willings Bans yaitu Jurnalis nasional dan pengarang buku juga mengisi sebagai pembicara dalam workshop citizen journalism tahun ini.

Mahasiswa Harus Bernilai “Plus”

“Sampai saat ini saya belum pernah merasakan bosan, saya mencintai pekerjaan ini. Dapat dikatakan saya adalah dosen yang senang mengajar, karena saya menyukai dunia teoritis”

Pendidikan mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menegah Atas dijalaninya di Palembang. Setelah lulus SMA dia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Dosen senior yang bergelut dibidang studi Hukum Pidana ini bernama lengkap Ruben Achmad, S.H., M.H.
Saat kuliah, tepatnya waktu semester lima dia sudah diangkat menjadi asisten dosen. Tahun 1982 dia diterima sebagai PNS dan menjadi dosen tetap di Fakultas Hukum Unsri. Pria kelahiran 2 September 1955 ini melanjutkan kuliah S2 di UI KPK Undip dan dirinya tercatat sebagai mahasiswa di kelas Undip pada tahun 1986.
Hal ini terjadi karena saat itu tidak banyak tersedia program kuliah S2. Setelan pendidikan S2 selesai, dia kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai dosen di Fakultas Hukum Unsri. Seiring dengan hal itu, dia juga dipercaya untuk memegang beberapa jabatan penting diantarnya menjadi Ketua Unit Penelitian, Sekretaris Pengabdian Masyarakat, Sekretaris Laboratorium Hukum, Ketua Unit Penjamin Mutu, Ketua Jurusan di Fakultas Hukum Muhammadiyah jurusan hukum pidana,  serta yang terkhir menjadi ketua jurusan hukum pidana sampai saat ini di Fakultas Hukum Unsri. Semua jabatan yang dijalaninya di Fakultas Hukum.
Selain beberapa jabatan yang disebutkan di atas, dia juga pernah menjadi Pembantu Dekan 1 Fakultas Hukum Unsri tahun 2003-2007, Pembantu Dekan 1 di Fakultas Hukum Universitas IBA, dan dia pernah menjabat sebagai seorang Dekan di Universitas IBA. Semua jabatan diawalinya di universitas swasta, hingga akhirnya dia ditarik ke Fakultas Hukum Unsri.
Kemampuan dirinya sebagai seorang dosen membuat dia mengajar hampir di semua Universitas swasta dan Universitas negeri di Palembang, diantaranya Universitas IBA, Universitas Taman Siswa, Universitas Syakyakirti, Universitas Palembang, Program Pasca Sarjana Unsri. Selain mengajar di Palembang, dia juga tercatat sebagai dosen Pasca Sarjana Universitas Batang Hari Jambi hingga sekarang.
Dilihat dari banyaknya tempat dia mengajar, terselip alasan dirinya memilih pekerjaan sebagai dosen. “Saya memilih menjadi dosen karena saya senang dengan ilmu-ilmu hukum, dan mungkin juga karena faktor keturunan, orang tua saya berprofesi sebagai guru” ujarnya dengan santai saat diwawancarai.  
Studi Hukum Pidana menjadi spesifikasi bidang yang diajarkannya. Dia sangat  tertarik dengan masalah kriminalitas dan kekerasan, tetapi hal tersebut hanya sebatas rasa senang untuk mengamati. Mungkin juga karena faktor lingkungan, “Saya tinggal di lingkungan yang relatif rawan, hampir setiap hari saya melihat kriminalitas terjadi di sekitar lingkungan. Sehingga minat saya untuk memperdalam hal-hal yang berkaitan dengan kriminalitas itu muncul”.

Jhadi Wijaya

“Mahasiswa jangan hanya terbenam dengan kepentingan pribadi. Ketika ada sesuatu yang bertentangan maka  jangan sungkan untuk berkata. Jadi, berkatalah selama kesempatan itu masih ada”.

Organisasi sudah menjadi bagian dalam hidup pria yang bernama lengkap Jhadi Wijaya ini. Anak pertama dari dua bersaudara ini merasa jika meninggalkan organisasi  ada perasaan yang kurang dalam dirinya.  Dia mengakui bahwa pada awal berorganisasi pasti akan timbul perasaan jenuh. Tetapi setelah dijalani nantinya kita kan tahu positif dan negatif dari organisasi tersebut dan apa yang dibutuhkan organisasi itu serta dapat berpengaruh bagi diri kita sendiri.
Karir organisasinya dimulai sejak dia berada di sekolah dasar. Diawali dari lingkup yang terkecil yaitu kelas. Dia pernah menjabat menjadi ketua kelas dari kelas 1 SD hingga kelas 3 SMA. Kurang lebih selama 11 tahun dia menjabat sebagai ketua kelas karena saat kelas 6 SD dia tidak menjabat menjadi ketua kelas.
Saat SMP dia pernah menjabat menjadi ketua pramuka dan juga ketua OSIS.  Selain itu dia juga mengikuti organisasi Majelis Permusyawaran kelas serta pustaka bhayangkara.
Selain organisasi internal sekolah, dia juga mengikuti organisasi eksternal saat menginjak bangku SMA. Dia pernah menjabat menjadi sekretasis umum di organisasi tingkat Kabupaten. Walaupun begitu, dia juga menjabat menjadi Wakil Ketua OSIS serta Ketua bidang di Paskibra. Majelis Permusyawaran dan Rohis juga merupakan organisasi yang digelutinya saat dia SMA.
Tidak berbeda dengan zaman SMA, saat kulia dia juga bergelut dengan banyak organisasi. Di ALSA dia tergabung dalam divisi kaian ilmu hukum. Selain itu, dia juga sempat menjabat menjadi Ketua Departemen Pemuda dan Olahraga di BEM Fakultas Hukum UNSRI. Saat ini sudah hampir tiga tahun dia bergabung dengan BEM UNSRI. Cukup banyak jabatan yang dijalaninya saat bergabung dengan BEM UNSRI, diantaranya Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Pendidikan, serta Kementrian Politik Luar Negeri Divisi Luar Negeri. Dan sekarang dia juga bergabung dalam Badan Otonom Ramah.
Pria bersahaja ini juga mengikuti beberapa organisasi eksternal. Saat di IKMB Unsri dia sempat menjabat sebagai sekretaris umum. Kesatuan Organisasi Kedaerahan juga merupakan organisasi yang diikutinya saat ini.

Dengan Usaha Kita Pasti Bisa



“Pengaruh globalisasi ditambah banyaknya tontonan serta perkembangan internet di masyarakat mempengaruhi perilaku dan sikap anak-anak zaman sekarang”

Saat masih sekolah dia dijuluki sebagai anak kolong, istilah yang dikenal bagi mereka yang orang tuanya bekerja sebagai tentara, akibatnya dia sering berpindah sekolah saat masih kecil. Hal ini terjadi sejak dia masih sekolah dasar. Wanita bernama lengkap Nashriana, S.H., M. Hum. ini merupakan ibu dari satu orang putri. Keluarga kecil yang dimilikinya  saat ini berbanding terbalik dengan dirinya yang sepuluh bersaudara.  
Dia pernah tercatat bersekolah di Jambi kemudian pindah ke Kerinci Sumatera Barat, SD Putri Plaju Palembang dan kembali lagi ke Jambi saat mau ujian semester kelas 5 SD. Orang tua yang selalu pindah tugas saat SMP dia juga tercatat di beberapa sekolah menengah, diantaranya di Kota Bumi Lampung Utara saat masuk kelas 1 SMP, lalu pindah lagi ke Manak Bengkulu Selatan dan kembali lagi ke Lampung dan dia merupakan lulusan SMA di Musi Rawas. Walaupun sering berpindah sekolah, tetapi sekolahnya tetap lancar tidak pernah tinggal kelas. Ada banyak pengalaman yang dialaminya saat dia mengikuti orang tuanya pindah tugas berpindah.
Dia tidak selalu berada di kota besar tetapi juga kota kecil. Sering terjadi perbedaan kurikulum pendidikan di tiap daerah. Jika berpindah dari kota besar ke kota kecil jauh lebih enak, ada beberapa pelajaran yang telah kita pelajari terlebih dahulu dari mereka. Tetapi saat kita sudah lama berada di kota kecil kemudian pindah ke kota besar maka akan ada kesulitan penyesuaian.
Ada beberapa pelajaran yang belum dipelajari saat kita berada di kota kecil tersebut.  Perubahan tersebut sempat membuat dirinya tertekan, namun masalah ini dapat diatasinya berkat usaha untuk terus berlajar dan akhirnya dia mendapatkan juara. ”Intinya kalau kita usaha, kita pasti bisa ini adalah pelajaran hidup yang ibu dapatkan dari kecil”, ujarnya dengan lembut.

Mengajar Berarti Belajar


Mahasiswa cenderung belajar sendiri dengan segala fasilitas internet yang sudah memadai

Kesederhana selalu tampak setiap kali melihat sosok dosen yang satu ini. Sikap bersahaja yang tampak pada dirinya menjadi ciri utama dosen yang mengajar di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Dosen yang bernama lengkap Hj. Djasmaniar M, S.H., M.S. ini merupakan dosen mata kuliah hukum agraria.
Wanita yang bertempat tinggal di sekip tengah ini sangat bercita-cita menjadi seorang notaris. Demi mencapai keinginannya menjadi seorang notaris, ia rela pergi ke Jakarta, karena pada saat itu kursus untuk bidang kenotariatan baru ada di Jakarta. Tetapi, harapan hanya tinggal mimpi saja. Keinginannya untuk kursus kenotariatan pupus lantaran orang tuanya yang jatuh sakit.
Biarpun gagal menjadi seorang notaris tetapi ia pernah bekerja sebagai pegawai di kantor notaris. Awal karirnya sebagai dosen dimulai saat ia ditawari menjadi asisten dosen hukum agararia. Tak lama berselang ia langsung diangkat menjadi dosen tetap Fakultas Hukum Unsri untuk bidang spesialisasi hukum agraria.
Pencapaian tertinggi yang pernah didapatkannya selama ini adalah tesis S2 nya mengenai hukum agraria. Walaupun sebenarnya dua tahun yang lalu dirinya sudah pensiun sebagai dosen di Fakultas Hukum Unsri, namun dirinya masih tetap bekerja dengan status sebagai dosen Luar Biasa (LB). Hal ini dikarenakan dosen Fakultas Hukum Unsri Firman Muntaqo, S.H., M.H. sedang menjalankan kuliah S3 nya.
 “Saya tidak pernah merasakan duka saat menjadi seorang dosen. Hanya suka cita yang saya rasakan selama menjadi dosen di Fakultas Hukum Unsri”, ujar dosen berumur 67 tahun ini. Kesenangannya berhubungan dengan orang lain yang menjadi alasan utama dirinya tidak pernah merasakan duka saat mengajar.

Rasa yang Berbeda

aku merasakan hal yang berbeda saat ini
tidak untuk membandingkan
hanya perasaan yang timbul tiba-tiba

ada kenyamanan yang aku rasakan saat bersama mereka
bersama mereka aku benar-benar merasa bebas

aku dapat berbuat, berkata, bertindak apapun yang aku mau
tidak untuk saat ini
akan ada banyak hati yang harus aku jaga

yaa mungkin waktu lah yang membedakan semua itu
kenyamanan akan timbul saat aku telah lama bersama mereka
walaupun aku sempat ragu tuk hal ini
aku sempat berpikir mungkin aku tidak akan pernah mendapatkan kenyamanan yang sama lagi tuk saat ini

mungkin aku picik
mungkin juga rasa tidak percaya ku yang membuat kenyamanan itu sampai saat ini tak ku rasakan
atau mungkin memang tidak akan pernah ada kenyamanan yang sama di dua tempat yang berbeda..