“Mahasiswa cenderung belajar sendiri dengan segala fasilitas internet yang sudah memadai”
Kesederhana selalu tampak setiap kali melihat sosok dosen yang satu ini. Sikap bersahaja yang tampak pada dirinya menjadi ciri utama dosen yang mengajar di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Dosen yang bernama lengkap Hj. Djasmaniar M, S.H., M.S. ini merupakan dosen mata kuliah hukum agraria.
Wanita yang bertempat tinggal di sekip tengah ini sangat bercita-cita menjadi seorang notaris. Demi mencapai keinginannya menjadi seorang notaris, ia rela pergi ke Jakarta, karena pada saat itu kursus untuk bidang kenotariatan baru ada di Jakarta. Tetapi, harapan hanya tinggal mimpi saja. Keinginannya untuk kursus kenotariatan pupus lantaran orang tuanya yang jatuh sakit.
Biarpun gagal menjadi seorang notaris tetapi ia pernah bekerja sebagai pegawai di kantor notaris. Awal karirnya sebagai dosen dimulai saat ia ditawari menjadi asisten dosen hukum agararia. Tak lama berselang ia langsung diangkat menjadi dosen tetap Fakultas Hukum Unsri untuk bidang spesialisasi hukum agraria.
Pencapaian tertinggi yang pernah didapatkannya selama ini adalah tesis S2 nya mengenai hukum agraria. Walaupun sebenarnya dua tahun yang lalu dirinya sudah pensiun sebagai dosen di Fakultas Hukum Unsri, namun dirinya masih tetap bekerja dengan status sebagai dosen Luar Biasa (LB). Hal ini dikarenakan dosen Fakultas Hukum Unsri Firman Muntaqo, S.H., M.H. sedang menjalankan kuliah S3 nya.
“Saya tidak pernah merasakan duka saat menjadi seorang dosen. Hanya suka cita yang saya rasakan selama menjadi dosen di Fakultas Hukum Unsri”, ujar dosen berumur 67 tahun ini. Kesenangannya berhubungan dengan orang lain yang menjadi alasan utama dirinya tidak pernah merasakan duka saat mengajar.
Itulah mengapa ia bercita-cita menjadi seorang notaris ataupun dosen seperti saat ini. Selain waktu kerja yang tidak terikat serta keinginan untuk terus belajar juga menjadi alasan tersendiri baginya memilih profesi sebagai dosen.
Pendidikan dasar banyak dihabiskannya di Taman Siswa, yaitu saat TK, SD, dan juga SMA, sampai akhirnya ia juga pernah menjabat sebagai Dekan di Universitas Taman Siswa.
Di sela wawancara berlangsung kami sempat menanyakan pendapat ia mengenai perbedaan mahasiswa zaman dulu dengan mahasiswa yang sekarang.
Dia berpendapat, masa perkuliahan pada zaman dulu cukup lama. Banyak hambatan yang mengakibatkan tertundanya proses perkuliahan, misalnya saja saat terjadi demo, perkuliahan akan terhenti sementara waktu,
sedangkan mahasiswa saat ini sudah jauh lebih mudah. Contonya saja mengenai sistem perkuliahan yang menggunakan SKS, hal ini dapat mempercepat dan mempermudah mahasiswa dalam menempuh pendidikan di perkuliahan.
“Tetapi, tidak adanya keaktifan kelompok belajar di kalangan mahasiswa saat ini sangat disayangkan. Mahasiswa cenderung belajar sendiri dengan segala fasilitas internet yang sudah memadai”, tambahnya dengan suara lembut.
Di akhir wawancara dengan reporter (Media Sriwijaya, red), ia menyampaikan harapannya bagi mahasiswa, Mahasiswa adalah pemimpin masa depan sehingga harus banyak belajar dan serius, karena ilmu adalah bekal yang digunakan di masa depan dan ilmu lah yang betul-betul akan di praktekkan di masa depan. (mntr&mn).

















0 komentar:
Posting Komentar