“Pengaruh globalisasi ditambah banyaknya tontonan serta perkembangan internet di masyarakat mempengaruhi perilaku dan sikap anak-anak zaman sekarang”
Saat masih sekolah dia dijuluki sebagai anak kolong, istilah yang dikenal bagi mereka yang orang tuanya bekerja sebagai tentara, akibatnya dia sering berpindah sekolah saat masih kecil. Hal ini terjadi sejak dia masih sekolah dasar. Wanita bernama lengkap Nashriana, S.H., M. Hum. ini merupakan ibu dari satu orang putri. Keluarga kecil yang dimilikinya saat ini berbanding terbalik dengan dirinya yang sepuluh bersaudara.
Dia pernah tercatat bersekolah di Jambi kemudian pindah ke Kerinci Sumatera Barat, SD Putri Plaju Palembang dan kembali lagi ke Jambi saat mau ujian semester kelas 5 SD. Orang tua yang selalu pindah tugas saat SMP dia juga tercatat di beberapa sekolah menengah, diantaranya di Kota Bumi Lampung Utara saat masuk kelas 1 SMP, lalu pindah lagi ke Manak Bengkulu Selatan dan kembali lagi ke Lampung dan dia merupakan lulusan SMA di Musi Rawas. Walaupun sering berpindah sekolah, tetapi sekolahnya tetap lancar tidak pernah tinggal kelas. Ada banyak pengalaman yang dialaminya saat dia mengikuti orang tuanya pindah tugas berpindah.
Dia tidak selalu berada di kota besar tetapi juga kota kecil. Sering terjadi perbedaan kurikulum pendidikan di tiap daerah. Jika berpindah dari kota besar ke kota kecil jauh lebih enak, ada beberapa pelajaran yang telah kita pelajari terlebih dahulu dari mereka. Tetapi saat kita sudah lama berada di kota kecil kemudian pindah ke kota besar maka akan ada kesulitan penyesuaian.
Ada beberapa pelajaran yang belum dipelajari saat kita berada di kota kecil tersebut. Perubahan tersebut sempat membuat dirinya tertekan, namun masalah ini dapat diatasinya berkat usaha untuk terus berlajar dan akhirnya dia mendapatkan juara. ”Intinya kalau kita usaha, kita pasti bisa ini adalah pelajaran hidup yang ibu dapatkan dari kecil”, ujarnya dengan lembut.
“Saat ini saya kira juga masih ada perbedaan kurikulum yang terjadi, banyak orang yang mempertanyakan mengenai Ujian Nasional yang menyamaratakan semua sekolah di tiap daerah karena masih banyak sekolah yang sarana prasaranya tidak mendukung”, tambahnya disela-sela wawancara.
Walaupun sering berpindah sekolah mengikuti orang tua yang pindah tugas, dia tidak pernah mengeluh pada orang tuanya. Dia berpendapat kalau sifat anak-anak dulu memang selalu menurut pada orang tuanya berbeda dengan anak zaman sekarang yang mungkin efek dari globalisasi.
Tahun 1990 merupakan awal karirnya sebagai dosen Fakultas Hukum Unsri. Saat kuliah semester 5 dia mendapatkan beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas (TID). Siswa yang mendapatkan beasiswa ikatan dinas secara otomatis nantinya akan bekerja sebagai dosen, walaupun cita-cita awal dirinya adalah ingin menjadi wanmil karena orang tunya yang seorang ABRI.
Tahun 1990 merupakan awal karirnya sebagai dosen Fakultas Hukum Unsri. Saat kuliah semester 5 dia mendapatkan beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas (TID). Siswa yang mendapatkan beasiswa ikatan dinas secara otomatis nantinya akan bekerja sebagai dosen, walaupun cita-cita awal dirinya adalah ingin menjadi wanmil karena orang tunya yang seorang ABRI.
Dia berubah pikiran saat mendapatkan nasehat dari orang tuanya. Waktu luang yang banyak jika menjadi dosen, serta pembagian waktu antara mengajar dan juga keluarga yang dapat seimbang membuat dirinya menerima tawaran sebagai dosen. Ini juga merupakan wujud dirinya menurut pada orang tua dengan menerima nasehat dari orang tua. Dan pada akhirnya dia merasakan kesenangan bekerja sebagai dosen karena status sebagai dosen memiliki kemandirian dan tidak bergantung pada orang lain.
Ada pengalaman hidup yang selalu diceritakannya kepada mahasiswa, bahwa hidup itu hanya menjalankan apa yang ditakdirkan oleh Allah. Tahun 2007 dia sempat mengalami sakit yang diduga akibat malpraktek. Dia mengalami koma selama 4 hari. Lalu setelah itu dia kembali sadar yang akhirnya butuh waktu tiga bulan untuk dapat kembali sehat lagi.”Mungkin ini peringatan untuk saya sendiri atau untuk orang-orang yang melihat saya”, tambahnya. Dia sangat berterima kasih terhadap orang-orang di sekeliling yang mendoakannya saat dia dirawat.
Dia berecerita hal tersebut agar mahasiswa lebih termotivasi, mahasiswa mempunyai waktu luang yang banyak selain mereka juga masih muda, jadi seharusnya dapat lebih serius dalam menjalankan kehidupan terutama saat kuliah. Bukan hanya sikap, prilaku, tetapi juga contoh yang ditularkannya pada anak dan mahasiwanya.
Dalam perjalanan karirnya dia pernah menjabat sebagai Ketua pengabdian dan sekarang menjabat sebagai Sekretaris Bagian di Fakultas Hukum Sore sebelumnya sempat menjadi Ketua Dua. Program kerjanya saat ini mengenai perkuliahan, berkaitan dengan internal yaitu karyawan agar dapat bekerja lebih baik. Di Fakultas Hukum Sore tidak diperkenankan mebuat kebijakan hanya menjalankan kebijakan yang telah ada hanya sebagai perpanjangan tangan.
Di sela wawancara kami sempat menanyakan pendapatnya mengenai mahasiswa di Fakultas Hukum Sore. “Awalnya saya sempat sakit hati saat dosen-dosen sering membandingkan antara mahasiswa hukum sore dengan mahasiswa hokum Indralaya, tetapi ketika diselami memang agak berbeda. Lebih sulit untuk memanage mahasiswa hukum sore, kurangnya etika, sulitnya menjaga kebersihan padahal telah disediakan tempat sampah di setiap kelas, serta cara berpakaian yang terkadang tidak pantas untuk kuliah terutama amahasiswa perempuan membuat mereka sulit untuk diatur.
Dari segi akademik mahasiswa hukum sore tidak kalah dengan mahasiswa Indralaya. Faktanya saja, kemarin jumlah mahasiswa yang mendapat gelar “Dengan Pujian” lebih banyak dari mahasiswa di Indralaya”, ujar dosen yang dijuluki mak nyak ini.
Kesulitannya dalam mengatur mahasiswa dianggapnya sebagai suka duka menjadi dosen. Dia berpendapat bahwa ada perbedaan antara mahasiswa dulu dengan mahasiswa zaman sekarang. Mahasiswa dulu lebih akrab satu sama lain apalagi jika satu angkatan, berbeda dengan mahasiswa sekarang yang telah banyak terkena imbas negatif dari globalisasi.
Di akhir wawancara nya dengan reporter (Media Sriwijaya, red) dia menyampaikan harapannya agar akreditasi Fakultas Hukum dapat naik menjadi A, selain itu, fasilitas pendukung yang lebih cepat diselesaikan dan bagus serta dosen yang harus terus menambah ilmunya.
Dan untuk mahasiswa hukum sore dapat lebih berusaha agar jangan sampai ada pembicaraan kalau mahasiswa fakultas hukum sore kalah dengan mahasiswa fakultas hukum Indralaya dengan tidak melupakan etika terhadap orang tua. Selain harus terus menaati peraturan yang berlaku di fakultas. (syhr&mntr)

















0 komentar:
Posting Komentar